Berita

Tragedi Bayi Debora, PPP: JKN dan KIS Menyisakan Lobang

Berita|Selasa 12 September 2017 10:01 WIB

tragedi bayi debora ppp jkn dan kis menyisakan lobang

Tragedi yang menimpa bayi Debora telah menyita perhatian khalayak. Lantaran tidak memiliki cukup dana, akhirnya bagi malang itu menghembuskan nafas terakhirnya. Bagaimana dengan sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Kartu Indonesia Sehat (KIS)?

Jakarta, - Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PPP Okky Asokawati menilai tragedi kematian bayi Tiara Debora salah satunya disebabkan program Sistem Jaminan Kesehatan Nasional dan Kartu Indonesia Sehat (KIS) masih menyisakan lobang.

"Setidaknya dalam catatan saya, pemerintah hingga saat ini masih menyisakan utang pembentukan Peraturan Pemerintah (PP), baik terkait UU 36/2009 tentang Kesehatan maupun UU 44/2009 tentang Rumah Sakit," papar Okky dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (11/9/2017).


Sekretaris Dewan Pakar DPP PPP ini pun meminta pemerintah untuk segera membuat PP terhadap kedua UU tersebut agar implementasi kedua regulasi di bidang kesehatan itu dapat lebih efektif pelaksanaan di lapangan. Terkait masih belum maksimalnya kepesertaan rumah sakit swasta dalam BPJS Kesehatan, Okky mengusulkan, ada baiknya pemerintah membuat rumusan insentif kepada RS Swasta agar sebaran RS Swasta yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan makin banyak.

"Harus diakui, fasilitas alat kesehatan yang dimiliki RS Swasta jauh lebih banyak dibanding RS pemerintah. Belajar dari peristiwa bayi Debora, pemerintah harus membuat terobosan agar masyarakat dapat akses kesehatan dengan cepat, tepat dan mudah," ucap Okky.

Tiara Debora, bayi mungil berusia empat bulan, putri kelima pasangan Henny Silalahi dan Rudianto Simanjorang, warga Jalan Jaung, Benda, Tangerang tak dapat diselamatkan Minggu (3/9), meski kedua orang tuanya telah membawanya ke RS Mitra Keluarga Kalideres.

Sebelumnya, Debora sudah seminggu terserang flu disertai batuk. Ibundanya, Henny, sempat membawanya ke RSUD Cengkareng untuk pemeriksaan. Dokter di sana kemudian memberinya obat dan nebulizer untuk mengobati pilek Debora. Namun kondisi Debora semakin parah Sabtu (2/9) malam.

Ia terus mengeluarkan keringat dan mengalami sesak napas. Kedua orang tua Debora pun membawanya ke RS Mitra Keluarga Kalideres dengan menggunakan sepeda motor. Tiba di rumah sakit, dokter jaga saat itu langsung melakukan pertolongan pertama dengan melakukan penyedotan (suction).

Memperhatikan kondisi Debora yang menurun, dokter menyarankan dirawat di ruang pediatric intensive care unit (PICU). Dokter pun menyarankan orang tua Debora untuk mengurus administrasi agar putrinya segera mendapatkan perawatan intensif.

Namun, karena RS tersebut tak melayani pasien BPJS, maka Rudianto dan Henny harus membayar uang muka untuk pelayanan itu sebesar Rp19.800.000. Namun Rudianto dan Henny hanya memiliki uang sebesar Rp5 juta dan menyerahkannya ke bagian administrasi.

Ternyata uang tersebut ditolak, meski Rudianto dan Henny telah berjanji akan melunasinya segera. Pihak RS sempat merujuk Debora untuk dirawat di rumah sakit lain yang memiliki instalasi PICU dan menerima layanan BPJS.

Setelah menelpon ke sejumlah RS, Rudianto dan Henny tak juga mendapatkan ruang PICU kosong untuk merawat putrinya. Kondisi Tiara Debora terus menurun hingga akhirnya dokter menyatakan bayi ini meninggal dunia.

Rudianto dan Heni sangat terpukul atas meninggalnya Debora. Mereka tak terima dengan perlakuan pihak rumah sakit terhadap putri mereka.

Usai mengurus administrasi rumah sakit, Rudianto dan Henny membawa pulang jenazah putrinya menggunakan sepeda motornya.

"Turut berduka cita atas meninggalnya bayi Debora. Peristiwa ini semestinya tidak perlu terjadi, bila pihak RS mematuhi ketentuan UU 36/2009 tentang Kesehatan. UU Kesehatan secara tegas menyebutkan, RS, baik milik pemerintah maupun swasta, wajib menerima pasien demi penyelamatan jiwa pasien," pungkas Okky. [sumber: rilis.id]

Berita Lainnya

Tulis Komentar Anda

67 + 63

Quote

Kasus lelang keperawanan dan jasa nikah siri merupakan tindakan yang jauh dari peradaban kemanusiaan. Dalam kasus tersebut, perempuan menjadi obyek penderita, perempuan menjadi korban dan perempuan menjadi komoditas

- Okky Asokawati
Langganan Newsletter

Video

okky.asokawati.52
Find Us On Facebook
@AsokawatiOkky
Find Us On Twitter
©2014 okkyasokawati.com. All Rights Reserved.